Ahmadmaslik’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MULTIPLE INTEGENCE

MAKALAH

MULTIPLE INTELIGENCE

( KECERDASAN GANDA )

A. PENDAHULUAN

Beberapa tokoh sejarah manusia seperti Winston Churchil, bukanlah seorang yang tampil cerdas dengan angka gemilang ketika mereka berada di sekolah. Gus Dur, presiden Indonesia ke-empat juga tidak berhasil menampilkan diri sebagai pelajar yang cerdas. Sebaliknya, banyak murid-murid sekolah yang gemilang, ternyata gagal total dalam masyarakat. Apa yang harus dikatakan mengenai gejala-gejala ini?

Gejala di atas membuat para pendidik merasa perlu mendefinisikan ulang makna kecerdasan. Apakah kecerdasan itu? Bagaimana menolong anak-anak yang terhambat belajar?

B. PENGERTIAN KECERDASAN GANDA

Howard Gardner, psikolog pendidikan asal Amerika yang terkenal dengan teori kecerdasan gandanya menyatakan, kecerdasan intelektual hanyalah salah satu dari 8 kecerdasan yang dimiliki seseorang. Kecerdasan ganda yang dimaksud Gardner adalah kecerdasan di bidang bahasa, berpikir logis atau matematis, musik, visual, dan gerak.

C. KERANGKA PEMAHAMAN UTAMA DALAM TEORI KECERDASAN GANDA

1. Teori kecerdasan ganda bukanlah suatu teori yang menentukan satu kecerdasan yang cocok bagi seseorang. Teori ini adalah teori fungsi kognitif yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk mengembangkan seluruh kecerdasan tersebut.

2. Tentunya kecerdasan-kecerdasan tersebut berfungsi bersama-sama dalam kombinasi dan dalam cara yang unik bagi setiap orang.

3. Kebanyakan orang dapat mengembangkan tiap-tiap kecerdasan ke suatu tingkat yang cukup memadai.

4. Kecerdasan-kecerdasan biasanya bekerja bersama-sama dalam kombinasi dan cara yang kompleks.

5. Ada banyak cara untuk mejadi cerdas dalam masing-masing kategori. Tidak ada alat ukur standar canggih yang menentukan seseorang pasti cerdas dalam suatu area yang spesifik.

D. MACAM-MACAM KECERDASAN GANDA

  1. Kecerdasan Linguistik yakni kemampuan seseorang untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan. Kecerdasan ini juga mencakup kemampuan untuk memanipulasi sintak atau struktur suatu bahasa, fonologi atau suara-suara bahasa, semantika dan pengertian dari bahasa serta dimensi-dimensi dan kegunaan praktis dari suatu bahasa.
  2. Kecerdasan Matematis dan Logis yakni kemampuan untuk menggunakan angka-angka secara efektif dan berpikir secara nalar. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap pola-pola logis dan hubungannya, pernyataan-pernyataan, proposisi: jika-maka, sebab-akibat, fungsi-fungsi dan abstrak-abstrak yang berkaitan.
  3. Kecerdasan Ruang yakni kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara akurat dan melakukan perubahan-perubahan terhadap percepsi tersebut. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, wujud, ruang dan hubungan-hubungan yang ada antara unsur-unsur ini.
  4. Kecerdasan Fisik dan Gerak yakni kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuhnya untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan atau menggunakan tangan-tangan untuk menghasilkan dan mentransformasikan sesuatu. Kecerdasan ini mencakup keahlian-keahlian fisik khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan.
  5. Kecerdasan Musik yakni kemampuan untuk mempersepsikan, mendiskriminasikan, mengubah dan mengespresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini mencakupi kepekaan terhadap ritme, tingkatan nada atau melodi, warna suara dari suatu karya musik.
  6. Kecerdasan Interpersonal yakni kemampuan untuk mempersepsikan dan menangkap perbedaan-perbedaan mood, tujuan, motivasi dan perasaan-perasaan orang lain. Yang termasuk adalah kepekaan terhadap ekspresi-ekspresi wajah, suara dan sosok postur (gestur) dan kemampuan untuk membedakan berbagai tanda interpersonal.
  7. Kecerdasan Dalam Pribadi yakni kesadaran diri dan kemampuan untuk beradaptasi sesuai dasar dari pengetahuan tersebut. Yang termasuk di dalam kecerdasan ini adalah kemampuan untuk menggambarkan diri secara baik dan kesadaran terhadap mood, tujuan, motivasi, temperamaen, keinginan dan kemampuan untuk disipilin pribadi, pemahaman diri dan self-esteem.
  8. Kecerdasan Alam yakni kecerdasan yang dimiliki mereka yang mencintai alam-alam bebas, binatang dan petualangan alam di mana mereka belajar dari hal-hal yang berbeda secara kecil.
  9. Kecerdasan Eksistensialis yakni kecerdasan yang cenderung memandang masalah-masalah dari sudut pandang yang lebih luas dan menyeluruh serta menanyakan “untuk apa” dan “apa dasar” dari segala sesuatu.

E. MENGEMBANGKAN KECERDASAN GANDA

Kebanyakan orang mampu mengembangkan seluruh kecerdasan yang dimiliki pada tingkatan penguasaan yang relatif tinggi. Mengapa tidak semua orang memiliki tingkat yang serupa dalam kecerdasan? Dalam kenyataan, potensi kecerdasan yang ada berkembang dan dipengaruhi oleh sekurangnya 3 (tiga) faktor :Keturunan/Biologis, termasuk didalamnya adalah; faktor genetik, kerusakan pada otak pada saat-saat sebelum, ketika, dan sesudah lahir.

Sejarah kehidupan pribadi, termasuk di dalamnya pengalaman bersama dengan orangtua, guru, teman, dan yang lainnya, baik yang membantu pengembangan kecerdasan maupun yang melumpuhkan atau menghalanginya.

Latar belakang sejarah dan kebudayaan, termasuk di dalamnya waktu, dan tempat dilahirkan dan dibesarkan, hakekat dan keadaan dari perkembangan sejarah atau budaya di area yang berbeda.

F. PEMICU DAN PELUMPUH DARI KECERDASAN GANDA

Sejumlah pengaruh-pengaruh lingkungan yang mempengaruhi maju atau terhalangnya pertumbuhan dari kecerdasan-kecerdasan tersebut antara lain : Akses ke sumber daya-sumber daya dan pelatih atau mentor. Soal ini dipengaruhi oleh keadaan finansial-ekonomi keluarga tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Seorang seperti Maradona tidak akan pernah muncul bila ia dilahirkan di pulau Putri, tanpa budaya sepak bola dan teladan di sekitarnya,

Faktor-faktor sejarah dan budaya. Kecerdasan seseorang akan berkembang bila ia berada pada waktu dan masyarakat yang tepat.

Faktor-faktor geografis. Orang yang tumbuh di daerah dan kondisi alam tertentu mempengaruhi kecerdasan kinesthetiknya. Pemain ski terkenal tidak akan muncul bila dilahirkan di kota Klaten.

Faktor-faktor keluarga. Pengaruh orangtua dapat menentukan kecerdasan si anak. Orang tua yang bijak akan secara intuitif menolong anak-anaknya mengembangkan diri keberbagai jurusan kecerdasan walaupun tidak ia sukai.

Faktor-faktor situasional. Pengaruh situasi yang dialami seseorang, seperti perang, kelaparan atau situasi lain akan mempengaruhi perkembangan kecerdasan-kecerdasannya.

G. KRITERIA KEABSAHAN MUNCULNYA TEORI KECERDASAN GANDA

Untuk memberikan fondasi teoritis dari pernyataan-pernyataannya Gardner membentuk beberapa prasyarat dasar dari tiap kecerdasan. Dengan kata lain, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar sesuatu dapat dianggap sebagai kecerdasan penuh dan bukan sekedar serpihan bakat atau keahlian tertentu. Kriteria-kriteria yang dipakainya, antara lain:

Setiap kecerdasan dilaksanakan oleh salah satu bagian otak. Bila bagian dari otak tadi diisolasi atau dilumpuhkan seperti, dalam kasus pasien yang menderita luka otak, harus terbukti bahwa kecerdasan tersebut lenyap. Contoh yang jelas ialah bagaimana suatu kemampuan berbahasa lenyap bila bagian tertentu dari otak seorang pasien mengalami luka. Jadi, kecerdasan harus dibuktikan dengan adanya kemungkinan melakukan isolasi terhadap bagian otak tertentu.

Suatu kecerdasasan harus memperlihatkan adanya suatu sejarah perkembangan yang distinktif dengan hasil akhir tingkat tinggi yang dapat dikenali. Tingkat perkembangan dari kecerdasan tadi yang sangat tinggi nyata bedanya dengan tingkat perkembangan yang biasa atau yang tertinggal. Selanjutnya suatu kecerdasan juga memperlihatkan kapan umumnya hal ini mulai, berkembang dan menurun.

Adanya bekas-bekas dari dalam sejarah umat manusia dan evolusinya mengenai awal kehadiran kecerdasan. Sejarah manusia meninggalkan jejak-jejak kecerdasan-kecerdasan tadi seperti lukisan gua di Altamira yang menunjukkan kemampuan manusia untuk menggunakan kecerdasan tertentu untuk mengungkapkan makna hidupnya pada masa purbakala sekalipun.

Adanya dukungan dari hasil-hasil psikometris. Hasil psikometri atau pengukuran kejiwaan mengungkapkan adanya kecerdasan tadi.

Dukungan dari hasil-hasil tugas-tugas eksperimen psikologi. Hasil-hasil eksperimen juga dapat mengungkapkan adanya kecerdasan-kecerdasan tadi.

Setiap kecerdasan memiliki inti dari rangkaian operasinya. Jadi, misalnya kecerdasan menangkap makna sesuatu (eksistensi) memiliki inti berupa kemampuan untuk merenungkan dan melihat hubungan satu hal dari hal lain.

Kemampuan untuk dikodekan dalam suatu sistem simbol artinya setiap kecerdasan cenderung dapat diungkapkan melalui simbol-simbol tertentu. Setiap cara untuk memahami sesuatu selalu ada pada setiap budaya, tidak perduli kondisi sosio-ekonomi dan pendidikannya. Walupun telah berkembang jenis keterampilan pada budaya yang berbeda, namun hadirnya kecerdasan adalah bersifat universal. Dengan kata lain, kecerdasan berakar pada keberadaan spesies manusia itu sendiri.

H. KESIMPULAN

Dalam hidup, kecerdasan seseorang sejatinya tak hanya dinilai dari gelar akademis atau strata pendidikan. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: “Kami bersepuluh datang kepada Nabi saw, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ibnu Majah).

Dengan mengingat mati dan meyakini sepenuh hati akan tibanya hari perhitungan, manusia cerdas akan lebih berhati-hati dalam berbuat. Selalu menjadikan ridho Allah swt sebagai tolok ukur perbuatan. Tidak mudah tergoda oleh gemerlap kenikmatan dunia yang menyilaukan. Ringan tangan dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah swt. Tak kenal lelah mengajak orang lain kepada kebaikan dan kemuliaan Islam. Serta menghiasi hari-harinya dengan ibadah nafilah selain yang wajib. Semuanya dilakukan demi meraih kebahagiaan akhirat yang digambarkan Rasulullah dalam satu hadis-Nya, “Perbandingan antara kebahagiaan dunia dengan kebahagiaan akhirat, adalah seperti seseorang yang memasukkan jarinya ke dalam lautan yang luas, maka perhatikanlah berapa perbandingannya” (H.R. Muslim).

Inilah karakter manusia cerdas sebagaimana ditegaskan Rasul dalam sabdanya: ”orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

BAHAN BACAAN

Marion J. Rice. 1986. Modul-modul Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Kurikulum dan Pengajaran. Malang: P3TK

Muijs, Daniel dan Reynolds, David. 2001. Effective Teaching, Evidence and Practice. London: Paul Chapman Publishing.

Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, Dari Konsepsi Sampai Dengan Implementasi. Yogyakarta: Hikayat.

http ://hafidz 341.wordpress.com

Juni 29, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: