Ahmadmaslik’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MENGAJAR TANPA KEKERASAN

Metodologi Mengajar Tanpa Kekerasan dan Menyenangkan

A. Pendahuluan

Tindak kekerasan dalam dunia pendidikan tidak diinginkan oleh siapapunJuga. tetapi permasalahan ini masih sering terjadi dalam dunia pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara educatif bukan dengan kekerasan yang mengatasnamakan pendidikan.

Kekerasan dalam pendidikan di Indonesia sering terjadi, misalnya, akhir 1997, di salah satu SDN Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di Surabaya, seorang guru olah raga menghukum lari seorang siswa yang

mengakibatkan siswa itu tewas. Dalam periode yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung, Bengkalis, Riau, menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat. Bulan Maret 2002 yang lalu, terjadi pula seorang pembina pramuka bertindak asusila terhadap sisiwinya saat acara Camping.

Selain tersebut di atas, banyak lagi kasus kekerasan pendidikan

masih melembari wajah pendidikan kita.

Dampak dari tindakan kekerasan tersebut dapat menimbulkan kesakitan

fisik atau trauma psikologis jangka panjang yang berpengaruh terhadap

kepribadian anak. Tindak kekerasan dalam dunia pendidikan kadang dilakukan

tanpa menyadari hak dan kewajiban anak. Sudah nyata tertera dalam undangundang

Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,

Bab 3, pasal 4 yang berbunyi Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh,

berkembang, dan berpatisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat

kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi.

Penulis mengajak kepada para guru untuk mencari dan menggali metode

mangajar yang pantas tanpa kekerasan dan menyenangkan, cukuplah sebagian

4

Guru-guru kita yang dahulu mengajari kita dengan keras, tapi jangan kita warisi

tradisi itu, karena siswa sekarang tidak memerlukan tradisi itu dan hakikatnya

kalau kita mengajari siswa kita sepereti guru yang mengajari kita dulu maka hal

itu tidak pantas, karena siswa kita tidak hidup pada zaman guru kita, mereka

mempunyai zaman mereka sendiri.

Oleh sebab itu penulis mengangkat tema metodologi mengajar tanpa

kekerasan dan menyenangkan ini agar guru dapat memilih dan memperkaya

tehnik pembelajaran sehingga tujuan dari proses belajar mengajar itu tercapai

dengan menyesuaikan gaya belajar siswa saat ini.

B. Pengertian

1. Pemgertian Metodologi Mengajar.

Metodologi berasal dari bahasa latin meta dan hodos, meta artiya jauh

(melampau) dan hodos artinya jalan (cara). Metodologi adalah ilmu mengenai

cara-cara mencapai tujuan. Sedangkan pengertian mengajar menurut beberapa

ahli sebagai berikut:

Arifin (1978) mendefinisikan bahwa mengajar adalah suatu

rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat

menerima, menanggapi dan menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran

itu .

Tyson dan Caroll (1970) mengemukakan bahwa mengajar ialah a way

working with students A process of interaction. the teacher does something

to student and the students do something in return. Dari definisi itu tergambar

bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik

antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.

Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah . suatu aktivitas

mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan

menghubungkannya dengan anak dan sehingga terjadi proses belajar .

5

Tardif (1989) mendefinisikan dan mengajar adalah. any action

performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating

learning in another individual (the learner) dan yang berarti mengajar adalah

perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini peserta didik)melakukan

kegiatan belajar.

Sebagian para ahli mengatakan bahwa mengajar adalah menanamkan

pengetahuan sebanyak-banyaknya dalam diri anak didik, sebagian para ahli

lainnya mengatakan bahwa mengajar diartikan menata berbagai kondisi belajar

secara pantas. Kondisi yang ditata itu adalah kondisi eksternal anak didik.

Termasuk dalam kondisi eksternal ini adalah komunikasi verbal guru dengan

anak didik.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa metodologi

mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas

yang tersistem dalam lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik,

yang melakukan proses interaksi timbal balik sehingga tujuan pengajaran

tercapai.

2. Pengertian Kekerasan

Menurut New Oxford Dictionary (1998), kekerasan atau violence

adalah tingkah laku yang melibatkan kekuatan fisik untuk melukai, menyakiti,

merusak dan membunuh seseorang.

Pada awalnya terminologi tindak kekerasan atau child abuse dan

neglect berasal dari dunia kedokteran. Sekitar tahun 1946, Caffey (seorang

radiologist) melaporkan kasus berupa gejala-gejala klinik seperti patah tulang

panjang yang majemuk (multiple fractures) pada anak-anak atau bayi disertai

pendarahan tanpa diketahui sebabnya (unrecognized trauma). Dalam dunia

kedokteran, kasus ini dikenal dengan istilah Caffey Syndrome (Ranuh, 1999).

Kasus yang ditemukan Caffey diatas semakin menarik perhatian

public ketika Henry Kempe tahun 1962 menulis masalah ini di Journal of the

6

American Medical Assosiation, dan melaporkan bahwa dari 71 Rumah Sakit

yang ia teliti, ternyata terjadi 302 kasus tindak kekerasan terhadap anak-anak,

dimana 33 anak dilaporkan meninggal akibat penganiayaan yang dialaminyan

dan 85 mengalami kerusakan otak yang permanen. Henry Kempe menyebut

kasus penelentaran dan penganiayaan yang dialami anak-anak dengan istilah

Battered Child Syndrome yaitu: Setiap keadaan yang disebabkan kurangnya

perawatan dan perlindungan terhadap anak oleh orangtua atau pengasuh lain.

Selain Battered Child Syndrome, istilah lain untuk menggambarkan

kasusu penganiayaan yang dialami anak-anak adalah Maltreatment Synrome,

yang meliputi gangguan fisik seperti diatas, juga gangguan emosi anak dan

adanya akibat asuhan yang tidak memadai, eksploitasi sexsual dan ekonomi,

pemberian makanan yang tidak layak bagi anak atau makanan kurang gizi,

pengabaian pendidikan dan kesehatan dan kekerasan yang berkaitan dengan

medis (Gelles, 1985).

C. Model Pembelajaran yang Menyennangkan.

1. Active learning, dicetuskan oleh Melvin L.Silberman, asumsi dasar yang

dibangun dari model pembelajaran ini adalah bahwa belajar bukan merupakan

konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada siswa. Belajar

membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan

belajar itu aktif, siswa melakukan sebagian besar pekerjaan belajar. Mereka

mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah dan

menerapkan apa yang mereka pelajari.

Dalam active learning, cara belajar dengan mendengarkan saja akan cepat

lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara

mendengarkan, melihat, dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham,

dengan cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh

pengetahuan dan keterampilan, dan cara untuk menguasai pelajaran yang

7

terbagus adalah dengan mengajarkan. Belajar aktif merupakan langkah cepat,

menyenangkan, dan menarik. Active learning menyajikan 101 strategi

pembelajaran aktif yang dapat diterapkan hampir untuk semua materi

pembelajaran.

2. Quantum learning, merupakan cara pengubah bermacam-macam interaksi,

hubungan dan inspirasi yang ada di dalam dan sekitar momen belajar. Dalam

prakteknya, quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik

pemercepatan belajar dan neorolinguistik dengan teori, keyakinan, dan metode

tertentu. Quantum learning mengasumsikan bahwa jika siswa mampu

menggunakan potensi nalar dan emosinya secara jitu akan mampu membuat

loncatan prestasi yang bisa terduga sebelumnya. Dengan metode belajar yang

tepat siswa bisa meraih prestasi belajar secara berlipat ganda. Salah satu konsep

dasar dari metode ini adalah belajar itu harus mengasyikkan dan berlangsung

dalam suasana gembira, sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih

besar dan terekam dengan baik.

Sedang quantum teaching berusaha mengubah suasana belajar yang menoton

dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan gembira dengan

memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa menjadi suatu kesatuan

kekuatan yang integral. Quantum teaching berisi prinsip-prinsip sistem

perancangan pengajaran yang efektif, efisien, dan progresif berikut metode

penyajiannya untuk prakteknya, model pembelajaran ini bersandar pada asas

utama bawalah dunia mereka kedunia kita, dan antarkanlah dunia kita ke

dunia mereka. Pembelajaran, dengan demikian merupakan kegiatan full content

yang melibatkan semua aspek kepribadian siswa (pikiran, perasaan, dan bahasa

tubuh) di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya, serta

persepsi masa mendatang. Semua ini harus dikelola sebaik-baiknya,

diselaraskan hinnga mencapai harmoni (diorkestrasi).

8

3. Accelerated learning merupakan pembelajaran yang dipercepat. Konsep dasar

dari pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran itu berlangsung secara cepat,

menyenangkan, dan memuaskan. Pemilik konsep ini, Dave Meier menyarankan

kepada guru agar dalam mengelola kelas menggunakan pendekatan Somatic,

Auditory, Visual, dan Intellectual (SAVI). Somatic dimaksudkan sebagai

learning by moving and doing (belajar dengan bergerak dan berbuat). Auditory

adalah learning by talking and hearing (belajar dengan berbicara dan

mendengarkan). Visual diartikan learning by observing and picturing (belajar

dengan mengamati dan menggambarkan). Intellectual maksudnya adalah

learning by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan masalah

dan melakukan refleksi).

Bobbi DePorter menganggap accelerated learning dapat memungkinkan siswa

untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal

dan dibarengi kegembiraan. Cara ini menyetukan unsur-unsur yang sekilas

tampak tidak mempunyai persamaan, tampak tidak mempunyai persamaan,

misalnya hiburan, permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik dan

kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerja sama untuk

menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.

D. Metode Mengajar Yang Menyenangkan.

Muara dari inovasi pendidikan adalah bagaimana guru mengajar dan

bagaimana murid belajar. Perubahan maksimal dari komponen lain yang tidak di

ikuti inovasi maksimal dari Proses Belajar Mengajar diperkirakan akan kurang

dapat meningkatkan mutu pendidikan secara berarti. Guru-guru kadang cenderung

hanya menggunakan satu metode mengajar saja yaitu ceramah. Ceramah ini

dilaksanakan secara klasikal sehingga kurang memperhatikan keberagaman

keadaan siswa. Penulis akan memaparkan beberapa metode belajar yang dapat

digunakan.

9

1. Metode Ceramah Plus

Kalau kita menggunakan metode ceramah saya maka akan membuat siswa

pasif dan mengandung unsur paksaan kepada siswa. Metode ceramah plus

adalah metode yang menggunakan lebih dari satu metode yakni metode

ceramah gabung dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode cermah plus:

a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas

b. Metode ceramah plus diskusi

c. Metode ceramah plus demonstrasi

Kombinasi metode ini akan membuat sistem pengajaran yang variatif.

2. Metode Diskusi (Problem Solving)

Metode diskusi ini merupakan metode pengajian bahan pelajaran dimana guru

memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengadakan perbincangan yang

ilmiah guna mengumpulkan pendapat, kesimpulan atau menyusun alternatif

pemecahan atas suatu masalah. Kelebihan dari metode diskusi ini adalah:

a. Mendorong siswa berpikir kritis

b. Mendorong siswa mengepresikan pendapatnya secara bebas

c. Mendorong siswa mengembangkan pikirannya

d. Mendorong kreativitas siswa dalam pemecahan masalah

Metode ini membuat siswa merasa senang apabila disajikan dengan tema yang

menarik, dan anak di kelompokkan menurut pilihan mereka sendiri dan

penilaian dilakukan oleh kelompok satu pada yang lainnya agar lebih

demokratis, disini guru hanya sebagai fasilitator.

3. Metode Demontrasi

Melalui metode demonstrasi guru memperlihatkan suatu proses, peristiwa atau

cara kerja suatu alat kepada peserta didik. Dalam penggunaan metode ini guru

bisa menjadi demonstrator dan bisa juga orang lain yang ahli dalam bidang

pelajaran itu. Metode ini menggugah rasa ingin tahu siswa dan ransangan

10

visual siswa. Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang sangat

efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan

seperti ini: (contoh : Pembuatan Biodiesel)

a. Bagaimana cara membuatnya ?

b. Terdiri dari bahan apa ?

c. Bagaimana proses mengerjakannya ?

Metode ini lebih menarik lagi bila dilakukan di luar kelas misalnya di tempat

pembuatannya secara langsung.

4. Metode Inquiri

Inquiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang secara harfiah berarti

penyelidikan Carin dan Sund (1975) mengemukakan bahwa inquiri adalah

the process of investigating a problem. Adapun Plaget mengemukakan bahwa

metode inquri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada

situasi untuk melakukan experiment sendiri secara luas agar melihat apa yang

terjadi, ingin melakukan sesuatu mengajukan pertanyaan, serta mencari

jawabannya sendiri, juga membandingkan dengan temuan peserta didik yang

lain. Metode inquiri merupakan metode penyelidik yang melibatkan proses

mental dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena alam

b. Merumuskan masalah yang ditemukan

c. Merumuskan Hipotesis

d. Mengumpulkan data dan menganalisis

e. Menarik kesimpulan yang objektif, jujur dan tanggung jawab

5. Metode Simulasi

Simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja. Tujuan dari

simulasi ini adalah untuk melatih keterampilan tertentu, baik yang bersifat

professional maupun bagi kehidupan sehari-hari.

11

Bentuk dari simulasi ini adalah role playing, drama, dan permainan. Langkahlangkah

simulasi sebagai berikut:

a. Penentuan topik dan tujuan simulasi

b. Guru memberikan gambaran secara garis besar situasi yang akan

disimulasikan

c. Pemilih peran

d. Pelaksanaan simulasi

e. Evaluasi

f. Latihan ulang

6. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab merupakan cara menyajikan bahan ajar dalam bentuk

pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan.

Pertanyaan-pertanyaan bisa muncul dari guru maupun peserta didik, demikian

juga jawabannya. Kelebihan dari metode ini adalah:

a. Guru dapat memahami bahan pelajaran yang belum dipahami oleh siswa

b. Melatih siswa agar berani mengungkapkan pendapat

c. Siswa dapat bertanya langsung tentang bahan ajar yang sulit

d. Kelas akan hidup karena murid aktif berpikir

7. Metode Karya Wisata

Dengan karya wisata, anak didik dibawah bimbingan guru mengunjungi

tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk belajar.

Kelebihan dari metode ini adalah:

a. Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan

lingkungan nyata dalam pengajaran

b. Membuat bahan yang dipelajari di-sekolah menjadi relevan

c. Pengajaran yang dapat lebih merangsang kreativitas anak

12

8. Metode Resitasi

Metode resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan

membuat Resume dengan kalimatnya sendiri.

Kelebihan metode ini adalah:

a. Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat

diingat lebih lama

b. Metode ini lebih membuat siswa tertantang

c. Siswa lebih berani mengambil inisiatif dan mandiri

9. Metode Mengajar Sesama Teman

Metode ini dibuat juga Peer teaching method, metode mengajar sesama teman

adalah netode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.

Metode ini memupuk rasa sosial dan tanggung jawab antar sesama siswa, tetapi

metode ini bukan perbuatan yang meniru jawaban temannya (menyontek)

tetapi menjelaskan lagi pelajaran (cara-cara, konsep) kepada teman siswa yang

belum mengerti.

10.Metode Perancangan

Metode yang mana pendidik harus merancang suatu project yang akan diteliti

sebagai objek kajian.

Melalui metode ini anak didik dibina dengan membiasakan, menerapkan

pengetahuan, sikap dan keterampilan dengan terpadu yang diharapkan praktis

dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

E. Membangun Kedisiplinan Siswa Tanpa Kekerasan.

Pembinaan kedisiplinan siswa harus dipupuk sejak dini agar menjadi warga

masyarakat yang taat hokum berdasarkan etika dan moralitas, disamping peranan

keluarga yang utama, dunia pendidikan adalah lingkungan kedua bagi anak untuk

belajar tentang kedisiplinan, oleh sebab itu sekolah dituntut untuk mencetak siswa

yang disiplin dengan caa yang edukatif juga, bukan dengan kekerasan.

13

Menurut Andarus Darahim, salah satu anggota Komisi Perlindungan Anak

Indonesia; mengemukakan tujuh prinsip dalam membangun kedisiplinan anak.

1. Hormati martabat/harga diri anak (respect the child s dignity)

Pembinaan ini diharapkan diarahkan pada perawatan fisik, pembinaan psikologis

siswa. Pendidik harus berperan sebagai pembimbing untuk mewujudkan

keinginan anak bukan sebagai pemberi hukuman, dan mendidik tidak

meremehkan siswa, galilah hal yang positif yang dimiliki mereka.

2. Bangun jiwa pro-sosial, disiplin diri dan kepribadian (develop pro sosial and

character)

Pembinaan diarahkan pada sikap dan percaya diri dan disiplin diri, termasuk

kebebasan memilih. Pendidik harus meem bangun rasa empati siswa dan rasa

menghargai sesama. Pendidik dituntut memberi ketauladanan pada siswa.

3. Tingkatkan partisipasi aktif anak (child s active participation)

Pendidik memberi kesempatan yang seluas-luasnya agar siswa dapat aktif dalam

proses belajar. Pembinaan diarahkan pada sikap toleransi dalam membangun

kerjasama dengan teman dan orang lain. Dengan memfokuskan pada pengatasan

masalah dan menumbuhkan kemampuan diri sebagai bagian dari komunitas.

4. Hormati kebutuhan tumbuh kembang dan kualitas hidup anak (respect the

child s development need and quality of life).

Pendidik harus menghormati kebutuhan siswa dalam masa perkembangan, untuk

itu pendidik dituntut untuk memberikan gaya mengajar sesuai dengan kebutuhan

siswa. Pembinaan diarahkan pada jiwa optimistik dan mendorong percaya diri

bahwa setiap orang bisa memecahkan masalah asal mau belajar dari

pengalaman.

5. Hargai motivasi dan pandangan anak (respect the child s motivation and life

views)

Penghargaan terhadap keinginan siswa merupakan penderitaan yang sangat

berguna meskipun tidak semua keinginan harus dipenuhi. Pembinaan diarahkan

14

pada sikap yang mengerti perbedaan dan kekhususan orang lain, pandangan,

gaya, dan sebagainya.

6. Jamin rasa keadilan (assure fairness)

Pembinaan diarahkan pada sikap menghormati kesetaraan dan tidak

diskriminatif.

7. Kembangkan semangat solidaritas (promote solidarity)

Pembinaan diarahkan pada sikap membangun kerjasama tanpa mau menang

sendiri atau mementingkan diri sendiri.

F. Dampak Kekerasan Pendidikan Pada Anak.

Kekerasan yang dilakukan pada peserta didik dapat membawa dampak

negatif sebagai berikut:

a. Secara fisik kekerasan ini mengakibatkan adanya kerusakan tubuh, seperti: lukaluka

memar luka simentris di wajah dan lain sebagainya.

b. Secara psikis, anak yang mengalami penganiayaan sering menunjukkan :

ketakutan atau bertingkah laku agresif, emosi yang labil, depresi, jati diri yang

rendah, kecemasan, adanya gangguan tidur phobia dan lain sebagainya.

Dari hasil penelitian dikatakan bahwa penganiayaan pada masa anak

menyebabkan anak berpotensi memiliki gangguan kepribadian ambang sehinnga

kelak anak juga berpotensi menderita depresi pada masa dewasanya. Disamping itu

timbulnya gejala disasosiasi termasuk amnesia terhadap ingatan-ingatan yang

berkaitan dengan pengeniayaannya (Suyanto & Hariadi, 2002). Selain itu

kekerasan yang terjadi pada anak dapat mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan jiwa anak, sehinnga kreativitas dan produktivitas anak menjadi

terpasung, yang pada akhirnya mengakibatkan self development yang optimal pada

diri anak tidak tercapai. Lebih jauh, jika kekerasan tersebut terjadi di sekolah maka

peserta didik akan menaruh kebencian terhadap sekolah dan jika kekerasan tersebut

terjadi dalam keluarga maka anak akan tidak betah dirumah.

15

G. Menciptakan Pembelajaran Yang Menyenangkan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik untuk

menghidupkan suasana belajar siswa di kelas maupun di luar kelas, hal-hal yang

harus diperhatikan adalah:

1. Ruang Kelas (tempat belajar)

Suasana ruang belajar ditata semenarik mungkin agar mampu menciptakan

keadaan yang gembira dari awal pelajaran dimulai hingga proses belajar

berakhir.

2. Membuka Pelajaran

a) Memberi salam dengan semangat, pendidik ditunjuk untuk menunjuk kan

wajah yang bersemangat, senyum, agar siswa senang melihatnya

b) Membangkitkan motivasi belajar, dalam membuka pelajaran hendaknya guru

memberitahukan tujuan yang akan dicapai dengan pelajaran yang akan

disajikan.

c) Warming up, jika kondisi siswa tampak loyo, maka guru memulai pelajaran

dengan melakukan aktivitas fisik selama beberapa menit dengan melemaskan

otot-otot.

3. Pendekatan Pembelajaran

Cara mendidik yang demokratis perlu diperhatikan oleh pendidik, karena

pendekatan ini adalah cara mendidik yang ideal, tidak terlalu ketat, namun ada

pengawasan.

Siswa diberi hak untuk menyalurkan pendapat, usul, saran, inisiatif,

keputusan pada pendidik . pendekatan ini mendorong anak-anak agar mandiri

tetapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan

mereka.

16

4. Mengadakan Variasi

Mengadakan variasi adalah keterampilan yang harus dikuasai guru dalam

pembelajaran untuk mengatasi kebebasan peserta didik. Variasi dalam

pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi empat bagian

a) Variasi dalam gaya mengajar

Variasi yang terdiri dari suara, eye contact, gesture dan mengubah posisi

b) Variasi dalam penggunaan media

c) Variasi dalam pola interaksi

Variasi ini terdiri dari pengelompokkan peserta didik, tempat kegiatan

pembelajaran: dalam dan luar kelas

d) Variasi dalam kegiatan

Variasi dalam penggunaan-penggunaan metode, dan pemberian contoh atau

ilustrasi.

5. Menjaga Sikap Dalam Mengajar

Guru yang kurang ramah, terlalu banyak mengatur begini-begitu dan

menciptakan suasana belajar yang sangat kompetitif hanya akan membuat anak

tidak betah di sekolah. Misalnya, membandingkan anak yang satu dengan

temannya yang dianggap lebih pandai, atau melabel anak secara negatif seperti,

Kamu, kok, begini aja enggak bisa sih! , Jangan lamban gitu dong! , Masak

sih enggak malu kalah sama temannya? .

Hal-hal yang harus diperhatikan oleh pendidik adalah:

-Yang harus dilakukan oleh pendidik;

a) Smile (Senyum)

Hindari bahwa guru tersebut arrogant atau sombong. Penampilan anda

mengajar adalah energi bagi siswa anda.

b) Voice Volume (Volume Suara)

Pastikan semua siswa anda mendengar suara anda, tetaplah stabil namun

luwes tidak kaku.

17

c) Gesture (Bahasa Tubuh)

Bersikaplah wajar dan relax, bahasa tubuh yang kaku akan membosankan.

d) Eye Contact (Kontak Mata)

Kontak mata dengan setiap siswa secara terus menerus akan menimbulkan

komunikasi yang baik dari hati ke hati dengan siswa anda.

-Yang tidak dilakukan oleh pendidik;

a) Pace Too Frequently (Mondar-Mandir)

b) Directly Point Out (Menunjuk Langsung Pada Siswa)

Menunjuk langsung ini mengesankan bahwa anda sombong, namun gunakan

telapak tangan terbuka atau melemparkan masalah secara demokratis

c) Underestimate (Menganggap Remeh Siswa)

d) Sit Too Long (Duduk Terlalu Lama)

6. Menutup Pelajaran

Guru sebaiknya menutup pelajaran dengan menarik kesimpulan agar siswa

menangkap point-point dari pelajaran yang diberikan atau guru melakukan

evaluasi dengan pertanyaan-pertanyaan.

18

DAFTAR PUSTAKA

Adrian, Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Siswa, Makalah 2004

Andarus Darahim, Menghindari Kekerasan Terhadap Anak dalam Keluarga dan

Sekolah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 2005

Abd. Rahman Assegaf, Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan,Makalah

2002

Boobi De Portel , Mike Hernacki, Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman

dan Menyenangkan, Jakarta: Penerbit Kaifa, 2007

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya,

2007

Ibnu Anshori, Corporal Punisment dalam Dunia Pendidikan, Komisi Perlindungan

anak Indonesia, 2006

Hasibuan, Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

2002

Mansyur, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Penerbit Direktorat Jenderal

Pembinaan Kelembagaan Agama Islamdan Universitas Terbuka, 2000

Rachmat Efendi, Menjadi Guru yang Efektif dalam Dua Hari, Jakarta: Penerbit

Yayasan Bina Edukasi dan Konsultasi Hapsa Et Studia, 2005

Soegeng Santoso, Metodologi Mengajar Tanpa Kekerasan, Makalah 2006

________________, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 2002

19

Juni 29, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: